15 August, 2016

Kisah Pahlawan Sultan Ageng Tirtayasa Melawan Belanda

Dalam rangka menjelang kemerdekaan Indonesia yang ke 71, kali ini timnasindonesia hadir memberikan salah satu cerita sejarah pahlawan kita Sultan Ageng Tirtayasa yang melawan politik adu domba VOC.

Profil
Sultan Ageng Tirtayasa
 
Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1683) adalah putra Sultan Abdul Ma'ali Ahmad dan Ratu Martakusuma yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650.

Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.

Selama masa pemerintahannya di Kesultanan Banten (1651-1682), sosok pahwlawan ini menghimpun kekuatan untuk melawan Belanda. Ia juga membuat Banten sebagai Kesultanan Islam yang makmur. Salah satunya adalah mendirikan keraton baru di Dusun Tirtasa yang terletak di Kabupaten Serang. Sejak itulah, ia mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa.


Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan rakyatnya untuk menentang VOC (Belanda). Apalagi pada waktu itu VOC menerapkan monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa dengan terang-terangan menolak kerja sama. Ia lalu menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Ia juga memimpin rakyatnya untuk melakukan serangan-serangan gerilya untuk melumpuhkan Belanda.

Keberhasilan kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa dibuktikan dengan membongkar blokade laut Belanda. Banyak kapal dan perkebunan milik Belanda yang berhasil dirusak dan dirampas. Tentu saja, hal ini sangat merugikan VOC. Ditambah lagi keberhasilan Sultan Ageng Tirtayasa menjalin kerja sama dagang dengan bangsa-bangsa Eropa, seperti Denmark dan Inggris. Kesultanan Banten menjadi makmur dengan pertahanan yang kuat.

Sultan Haji, anak tertua Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu di Kesultanan Banten sedang terjadi sengketa antara kedua putra Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu Sultan Haji dan Pangeran Purbaya. Belanda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sultan Haji yang dihasut oleh Belanda untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Haji akhirnya terhasut. Ia mengira ayahnya akan memberikan kekuasaannya kepada Pangeran Purbaya, adiknya. Semua itu menimbulkan perang keluarga.

Sultan Haji bekerja sama dengan Belanda merebut kekuasaan di Kesultanan Banten. Saat Sultan Ageng Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Banten. Belanda segera membantunya dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack de Saint Martin. Kerja sama antara Sultan Haji dan Belanda akhirnya dapat mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dibuang ke Batavia. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya meninggal dunia di dalam penjara. Beliau lalu di makamkan di komplek pemakaman raja-raja Banten yang terletak di sebelah utara Masjid Agung Banten.

Bukti Sejarah Kerajaan Banten dan Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk dibangun pada masa Kesultanan Banten oleh orang kepercayaan Sultan Ageng Tirtayasaketurunan Tionghoa yang bergelar Pangeran Cakradana. Bangunan Benteng ini difungsikan untuk menahan serangan dari laut. Oleh karenanya benteng ini dibuat tepat di sisi utara kesultanan. Dengan adanya benteng ini menjadi salah satu alasan kekuatan yang dimiliki oleh Kesultanan Banten yang sulit ditembus dari laut oleh para penjajah asal Eropa yang hendak menjajah Nusantara khususnya wilayah Banten.

Alkisah kehancuran Kesultanan Banten didasari oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh anak Sultan Ageng Tirtayasa sendiri yang bernama Sultan Abunasar Abdul Qahhar atau biasa disebut Sultan Haji. Ia mencoba merebut singgasana Kesultanan Banten yang dipimpin oleh sang ayah dengan bantuan VOC.
Pada masa Sultan Haji berkuasa, Pangeran Cakradana arsitek yang membangun benteng menyingkir ke Cirebon.
nama Speelwijk dipilih atas penghormatan Gubernur Jenderal Cornelis Janszzon Speelman yang bertugas di Hindia Belanda pada tahun 1681 – 1684.

Benteng Speelwijk dibangun di atas reruntuhan tembok Keraton Surosowan pasca penyerangan Sultan Ageng Tirtayasa dengan material yang tidak jauh berbeda dengan bangunan sebelumnya. Batu karang, batu bata merah sebagai material utamanya.
Pembagian ruangan utama di dalam benteng adalah kamar penyimpanan senjata, rumah komandan, kantor administrasi dan gereja yang semuanya tinggal reruntuhan dan pondasinya saja.
Di area benteng, tepatnya di sisi luar sebelah selatan terdapat pemakaman orang asing yang disebut kerkhoff. Bentuk bangunan makam terlihat tidak seragam. Salah satu bangunan makam yang paling besar adalah makam Komandan Hugo Pieter Faure (1718 – 1763), sang panglima perang.

Benteng ini diperkirakan memiliki dua fungsi, yakni sebagai pertahanan dan pemukiman. Benteng tersebut juga menjadi tempat mengontrol segala kegiatan yang berkaitan dengan Kesultanan Banten dan juga sebagai tempat berlindung dan bermukim bagi orang-orang Belanda.
Benteng Speelwijk ditinggalkan Belanda pada tahun 1811 karena adanya pemberontakan dan merebaknya penyakit sampar di Banten. Saat ini Benteng Speelwijk masih berdiri dengan kokoh di kawasan bersejarah Banten Lama.

Kaskus

0 comments:

Post a Comment